Belajar Istiqomah
Saat perjalanan hidup memasuki sebuah masa dimana kesadaran makna tentang kehidupan kembali hadir, Hal ini mungkin bertepatan dengan akan lahirnya anak ke 2 dalam keluarga saya, membuat saya kembali berharap Istiqomah dalam menjalani hidup ini.
Istiqomah, sebuah kata yang mudah diucapkan namun sulit dijalankan. Apalagi jika Cahaya Hidayah jauh dari hati yang kosong. Sehingga mau tidak mau kembali untuk belajar membiasakan diri dan melatih diri salah satu jalan untuk meraih kembali Cahaya HidayahNya untuk berIstiqomah.
Belajar Istiqomah, berikut salah satu kiat agar tetap Istiqomah yang saya ambil dari artikel 'Kiat Agar Tetap Istiqomah — Muslim.Or.Id' :
1. Memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar.
2. Mengkaji Al Qur’an dengan menghayati dan merenungkannya
3. Iltizam (konsekuen) dalam menjalankan syari’at Allah
4. Membaca kisah-kisah orang sholih sehingga bisa dijadikan uswah (teladan) dalam istiqomah.
5. Memperbanyak do’a pada Allah agar diberi keistiqomahan.
6. Bergaul dengan orang-orang sholih.
Belajar Istiqomah yaitu kembali belajar Alquran dan hadist. Minimnya pengetahuan saya terhadap ilmu yang masih luas terbentang membuat saya harus belajar mengakui bahwa apa yang saya miliki dan ketahui sekarang hanyalah setitik partikel atom di jagat raya.
Sumber Gambar : republika.co.id
Istiqomah, sebuah kata yang mudah diucapkan namun sulit dijalankan. Apalagi jika Cahaya Hidayah jauh dari hati yang kosong. Sehingga mau tidak mau kembali untuk belajar membiasakan diri dan melatih diri salah satu jalan untuk meraih kembali Cahaya HidayahNya untuk berIstiqomah.
Belajar Istiqomah, berikut salah satu kiat agar tetap Istiqomah yang saya ambil dari artikel 'Kiat Agar Tetap Istiqomah — Muslim.Or.Id' :
1. Memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar.
2. Mengkaji Al Qur’an dengan menghayati dan merenungkannya
3. Iltizam (konsekuen) dalam menjalankan syari’at Allah
4. Membaca kisah-kisah orang sholih sehingga bisa dijadikan uswah (teladan) dalam istiqomah.
5. Memperbanyak do’a pada Allah agar diberi keistiqomahan.
6. Bergaul dengan orang-orang sholih.
Belajar Istiqomah yaitu kembali belajar Alquran dan hadist. Minimnya pengetahuan saya terhadap ilmu yang masih luas terbentang membuat saya harus belajar mengakui bahwa apa yang saya miliki dan ketahui sekarang hanyalah setitik partikel atom di jagat raya.
Sumber Gambar : republika.co.id
Wartalika.com Sebuah Perjuangan Jurnalis Media Untuk Berkarya
4 tahun berkenalan dengan dunia kepenulisan yang dimulai dari blog dan lambat laun mengenal Citizen Journalism ternyata merupakan sekelumit kisah kecil diantara jutaan kisah di luar sana yang berjuang dan bergelut sebagai jurnalis sejati, entah itu di media cetak maupun online.
Mengenal satu persatu mereka memberikan sebuah pengalaman baru walaupun tidak terjun langsung di dalamnya. Dulu saya hanya tahu melalui tulisan dan karya-karyanya, kini saya bisa melihat satu persatu sosok mereka secara langsung.
Beberapa tahun ke belakang saya belajar banyak dari mereka yang hidup dan berkarya di Dunia online, kini semenjak bertemu dan bercerita banyak dengan penggagas sekaligus pengurus Media Wartalika yang telah lama berkecimpung di beberapa media cetak yang dimulai dari cerita yang sangat panjang juga penuh ujian, memberi hikmah kepada saya tentang segala sesuatu butuh pengorbanan dan perjuangan panjang.
Jatuh bangun sebuah media itu sudah biasa namun tetap berjuang dan berkarya itu yang harus dipertahankan. Dan WARTALIKA, Warta Lintas Khatulistiwa adalah media yang digagas bersama rekan-rekan seperjuangannya secara mandiri sekarang.
Kembali saya teringat saat saya bersama kawan-kawan Komunitas BlogerBenteng berkunjung ke kediaman Gola A Gong di Rumah Dunia. Dan telah saya tuliskan pada tahun 2010 dalam tulisan “Catatan Kunjungan”.
Beliau berkata “Dalam selempar buku atau selembar surat kabar di sana ada sebuah jerih payah dan keringat sang penulis”
Kala itu saya masih menulis sebatas curhat dan sekarang setelah mengalaminya dan terjun, saya dapat merasakan bagaimana rasanya seperti yang di ucapkan Gola A Gong.
Perjalanan para jurnalis tidaklah mudah dan pasti berliku. Tidak selalu manis kadang pahit dan getir harus di telan. Segala sesuatu yang berasal dari sebuah niat tulus pasti akan menemukan jalannya, Dan Wartalika akhirnya hadir untuk berjuang dan berkarya.
Walaupun diluar sana banyak media portal pemberitaan online yang telah dulu populer bukan berarti harus menyerah dan berhenti berkarya karena setiap perjuangan akan membuahkan hasilnya kelak. Semangat untuk team Wartalika.
Mengenal satu persatu mereka memberikan sebuah pengalaman baru walaupun tidak terjun langsung di dalamnya. Dulu saya hanya tahu melalui tulisan dan karya-karyanya, kini saya bisa melihat satu persatu sosok mereka secara langsung.
Beberapa tahun ke belakang saya belajar banyak dari mereka yang hidup dan berkarya di Dunia online, kini semenjak bertemu dan bercerita banyak dengan penggagas sekaligus pengurus Media Wartalika yang telah lama berkecimpung di beberapa media cetak yang dimulai dari cerita yang sangat panjang juga penuh ujian, memberi hikmah kepada saya tentang segala sesuatu butuh pengorbanan dan perjuangan panjang.
Jatuh bangun sebuah media itu sudah biasa namun tetap berjuang dan berkarya itu yang harus dipertahankan. Dan WARTALIKA, Warta Lintas Khatulistiwa adalah media yang digagas bersama rekan-rekan seperjuangannya secara mandiri sekarang.
Kembali saya teringat saat saya bersama kawan-kawan Komunitas BlogerBenteng berkunjung ke kediaman Gola A Gong di Rumah Dunia. Dan telah saya tuliskan pada tahun 2010 dalam tulisan “Catatan Kunjungan”.
Beliau berkata “Dalam selempar buku atau selembar surat kabar di sana ada sebuah jerih payah dan keringat sang penulis”
Kala itu saya masih menulis sebatas curhat dan sekarang setelah mengalaminya dan terjun, saya dapat merasakan bagaimana rasanya seperti yang di ucapkan Gola A Gong.
Perjalanan para jurnalis tidaklah mudah dan pasti berliku. Tidak selalu manis kadang pahit dan getir harus di telan. Segala sesuatu yang berasal dari sebuah niat tulus pasti akan menemukan jalannya, Dan Wartalika akhirnya hadir untuk berjuang dan berkarya.
Walaupun diluar sana banyak media portal pemberitaan online yang telah dulu populer bukan berarti harus menyerah dan berhenti berkarya karena setiap perjuangan akan membuahkan hasilnya kelak. Semangat untuk team Wartalika.
Kecepatan Smartfren CONNEX EVO Hanya Janji Manis
Dua bulan sudah saya mengunakan Modem smartfren EC 176-2 dengan kecepatan yang memuaskan di masa gratisannya 60 hari. Namun selesainya masa Bonus saya pun dihadapi dilema paket apa yang akan saya gunakan.
Setelah melalui proses pemilihan paket akhirnya saya memutuskan untuk migrasi kartu saya dari layanan Connex ke paket Connex EVO karena 3 keuntungan yang ditawarkan yaitu :
Namun setelah migrasi dan mengaktifkan layanan Connex EVO setelah dikenakan biaya Rp. 10.000,- dan mendapatkan Welcome Bonus 1 GB, kecepatan yang didapat tidak memuaskan seperti masa bonusnya yang artinya fitur yang ditwarkan “No speed limit” tidak berlaku.
Untuk buktinya saya coba trial di speedtest.net. berikut screenshotnya :
Untuk Lokasi tempat saya berada yaitu di Tigaraksa , Tangerang. Jika memang karena pengaruh wilayah jaringan maka sebelum-sebelumnya tentu akan sama hasilnya namun ini berbeda.
Hal yang membuat kecewa adalah tidak bisanya beralih kembali ke paket Connex dan tidak bisa menelepon juga sms. Hal ini sudah saya antisipasi karena jika memang hasil trial mengecewakan maka NOMOR yang saya gunakan ini akan saya ganti sebab tidak ada cara lain.
Kesimpulan akhirnya Smartfren Connex Evo bukan menjadi solusi untuk berinternet ria. Lebih baik tetap gunakan paket smartfren Unlimited atau Qouta connex. Connex EVO “No Recommended”
Tulisan ini hanya sebagai sharing pengalaman dan bukan untuk menjatuhan brand justru sebagai evaluasi untuk team smartfren meningkatkan kualitasnya.
Setelah melalui proses pemilihan paket akhirnya saya memutuskan untuk migrasi kartu saya dari layanan Connex ke paket Connex EVO karena 3 keuntungan yang ditawarkan yaitu :
Benefit CONNEX EVO:
- Lebih Mudah (tidak repot registrasi paket)
- Extra Volume s/d 50% (min. isi ulang 50rb)
- No speed limit (speed up to 14.7 Mbps)
Namun setelah migrasi dan mengaktifkan layanan Connex EVO setelah dikenakan biaya Rp. 10.000,- dan mendapatkan Welcome Bonus 1 GB, kecepatan yang didapat tidak memuaskan seperti masa bonusnya yang artinya fitur yang ditwarkan “No speed limit” tidak berlaku.
Untuk buktinya saya coba trial di speedtest.net. berikut screenshotnya :
Untuk Lokasi tempat saya berada yaitu di Tigaraksa , Tangerang. Jika memang karena pengaruh wilayah jaringan maka sebelum-sebelumnya tentu akan sama hasilnya namun ini berbeda.
Hal yang membuat kecewa adalah tidak bisanya beralih kembali ke paket Connex dan tidak bisa menelepon juga sms. Hal ini sudah saya antisipasi karena jika memang hasil trial mengecewakan maka NOMOR yang saya gunakan ini akan saya ganti sebab tidak ada cara lain.
Kesimpulan akhirnya Smartfren Connex Evo bukan menjadi solusi untuk berinternet ria. Lebih baik tetap gunakan paket smartfren Unlimited atau Qouta connex. Connex EVO “No Recommended”
Tulisan ini hanya sebagai sharing pengalaman dan bukan untuk menjatuhan brand justru sebagai evaluasi untuk team smartfren meningkatkan kualitasnya.
Mungkin Sudah Saatnya Netbook Lengser
Bergesernya tren dan kebiasaan sebagian masyarakat dunia terhadap teknologi mobile, membuat sebagian perusahaan produsen PC kembali menata strategi baru dalam industrinya. Semua itu berdasakan dari laporan turunnya hasil penjualan yang terjadi sejak tahun 2012.
Bagi sebagian masyarakat indonesia saya rasa bagitu pula. Budget untuk gadget sendiri misalnya mereka lebih cenderung memilih Tablet dan Smartphone dibandingkan PC apalagi Netbook.
“Kiamat PC” atau "post-PC" era pun santer mewarnai portal berita di halaman tekno sejak awal januari lalu. Menurut opini saya pribadi, laptop dan PC dektop masih memiliki masa jayanya namun untuk netbook, saya mungkin bisa mengatakan sudah saatnya lengser karena saya mengalami sendiri.
Netbook yang saya gunakan dan telah menemani saya sejak maret 2012 tidak lagi maksimal dan cenderung kalah telak. bukan pilihan yang tepat dengan budget sama dibandingkan perangkat mobile lainnya.
Perusahaan sekelas Dell pun merasakan kekhawatiran yang sama untuk keluar dari industri ini.
Kini netbook saya pun di rasa tidak maksimal untuk menunjang aktivitas mobile saya baik dari sisi body maupun spesifikasi. Dan tampaknya memang saya harus beralih ke Tablets.
Image source : windows.microsoft.com
Bagi sebagian masyarakat indonesia saya rasa bagitu pula. Budget untuk gadget sendiri misalnya mereka lebih cenderung memilih Tablet dan Smartphone dibandingkan PC apalagi Netbook.
“Kiamat PC” atau "post-PC" era pun santer mewarnai portal berita di halaman tekno sejak awal januari lalu. Menurut opini saya pribadi, laptop dan PC dektop masih memiliki masa jayanya namun untuk netbook, saya mungkin bisa mengatakan sudah saatnya lengser karena saya mengalami sendiri.
Netbook yang saya gunakan dan telah menemani saya sejak maret 2012 tidak lagi maksimal dan cenderung kalah telak. bukan pilihan yang tepat dengan budget sama dibandingkan perangkat mobile lainnya.
Perusahaan sekelas Dell pun merasakan kekhawatiran yang sama untuk keluar dari industri ini.
“Kini Dell berusaha meyakinkan bahwa masa depan bisnis PC dan notebook penuh dengan ketidakpastian. Penurunan permintaan perangkat PC dan notebook ini lebih dikenal sebagai "Post PC Era" atau "Kiamat PC".” Kompas.com
Kini netbook saya pun di rasa tidak maksimal untuk menunjang aktivitas mobile saya baik dari sisi body maupun spesifikasi. Dan tampaknya memang saya harus beralih ke Tablets.
Image source : windows.microsoft.com








